Pages

 

Sabtu, 06 Oktober 2012

Biografi Alexander Andries Maramis

0 komentar
alexander andries maramis

Silahkan disimak mengenai Biografi Pahlawan Republik Indonesia untuk mengenang jasa pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia Kita tercinta Ini. silahkan Lihat Biografi AA Maramis Pahlawan asli Manado

Mr. Alexander Andries Maramis (lahir di Manado, Sulawesi Utara, Hindia Belanda tahun 1897 – meninggal di Indonesia tahun 1977; usia 79/80 tahun) adalah anggota KNIP, anggota BPUPKI dan Menteri Keuangan pertama Republik Indonesia dan merupakan orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pada tahun 1945. Adik kandung Maria Walanda Maramis ini menyelesaikan pendidikannya dalam bidang hukum pada tahun 1924 di Belanda.

Pada waktu Agresi Militer Belanda II, AA Maramis berada di New Delhi, India dan ditugasi untuk memimpin Pemerintah RI dalam pengasingan. Ia kemudian menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Darurat yang diketuai oleh Sjafruddin Prawiranegara.

                         A.A. Maramis (Alexander Andreis Maramis)

Ketika dilahirkan pada tahun 1897, tidak ada seorang pun yang berani menduga bahwa anak itu kelak akan menjadi tokoh yang disegani dan disenangi. Secara diam-diam ia tumbuh di besarkan di tengah-tengah keluarga petani yang kebetulan memiliki kemampuan ekonomi di atas rata-rata petani Minahasa pada zaman itu. Ia memperoleh perlakuan kasih saying dari kedua orang tuanya. Begitu halnya dengan saudara saudaranya.
Setelah cukup usianya maka ia disekolahkan seperti anak-anak lain pada umumnya. Sementara menuntut ilmu di ELS dimana diajarkan bahasa Belanda, ibunya meninggal dunia. Ia merasa sangat kehilangan dengan meninggalnya ibunya yang amat dicintainya. Ayahnya kemudian kawin lagi. Kota Jakarta memiliki arti teersendiri untuknya, disamping Manado. Di sana ia harus tinggal dan bergaul di rumah keluarga Belanda, selain harus menuntut ilmu dan mengikat persahabatan dengan kawan-kawan sekolahnya di HBS. Ia mulai mengerti mengapa ia harus belajar bahasa dan kebudayaan Belanda.
Kegunaan praktis bahasa dan kebudayaan Belanda dan wawasan kenasionalan yang baru dan mulai melembaga, telah menempa jiwanya Alex Maramis yang sedang beranjak dewasa. Setelah lulus HBS, maka bertiga dengan Ahmad Soubardjo dan Datuk Pamanjuntak dari Sumatra Barat, mereka pergi ke negeri Belanda untuk menuntut ilmu. Tapi di negeri Belanda situasinya berbeda dengan di Jakarta, apalagi Manado. Udara kebebasan yang mereka hirup di Eropa sama sekali tidak pernah mereka alami di Indonesia. Para mahasiswa kita mulai bergerak kea rah persatuan dan kesatuan diman Alex Maramis berada di tengah-tengah arus yang sedang membanjir itu. Indische Vereninging yang mereka bentuk sejak 1908 di ganti atas persetujuan bersama menjadi Perhimpunan Indonesia. Kebanggaan identitas Indonesia telah berkecambah dan mulai menguasai alam pikirannya.
Sebagai seorang sarjana hukum, Alex Maramis kembali ke Indonesia pada tahun 1924. Sebenarnya dapat bekerja untuk kepentingan colonial, tetapa hal itu tidak dilakukukannya. Satu-satunya cara adalh bekerja sebagai Advokat dan pengacara di mana ia dapat langsung mendengar keluhan-keluhan rakyat tertindas., sebagaimana yang dilakukan oleh ayahnya. Namun masa lalu telah membuat Alex Maramis siap untuk mencintai dan di cintai seorang janda muda keturunan Belanda: Elizabet Marei Diena Veldhoedt. Kedunya sepakat untuk menikah pada tahun 1928, dua tahun setelah Alex Maramis pindah ke Palembang. Sekarang ia mempunyai seorang anak tiri yang dibwaw masuk istrinya ke lingkungan keluarga mereka. Sebagai awal tanda kasihnya terhadap anak itu, ia menamakannya Lexy Maramis.
Sejalan dengan  keanggotannya dalam Perhimpunan Indonesia, maka ketika PNI di bentuk tahun 1927, ia masuk menjadi  anggota. Ketika para pimpinan partai itu di tangkap dimana-mana, ia sedang di Palembang dan terhindar dari tindakan pemerintah colonial pada waktu itu. Sejak masih di negeri Belanda, ia sudah  berkata kepada teman-teman seperjuangannya dalm Perhimpunan Indonesia bahwa perjuangan tidak hanya membutuhkan perjuangan yang matang dan sasaran yang jelas. Di lain pihak, perjuangan membutuhkan pula kesiapan dana untuk menunjang perjuangan itu sendiri, suatu hal yang tidak dilakukan oleh PNI. Hal ini nyata dengan diangkatnya Alex Maramis dalam tiga masa jabatan sebagai Menteri Keuangan dimasa revolusi diman perjuangan nasional sangat membutuhkan dukungan dana. Pada masa itu, ia ikut mendirikan KRIS dan mengantar penyelundupan emas dan opium ke luar negeri setelah berhasil menembus blikade musuh.
Dalam beberapa situasi yang kritis dan menentukan, ia selalu tampil ke depan. Ia ikut menandatangani Piagam Jakarta. Sebagai Menteri keuangan, ia mengambil alih jabatan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri agar PDRI dapat berfungsi melanjutkan perjuangan pada masa itu. Kejujuran dan hasil perjuangannya selam menjabat Menteri keuangan, di lengkapi pahit getir yang di kecapnya. Antar lain sebagai Duta Istimewa dengan kuasa penuh untuk memeriksa administrasi keuangan dan dan personil di perwakilan-perwakilan Indonesia di luar negeri. Jabatannya sebagai Penasehat Delegasi ke perundingan KMB di negeri Belanda. Aknirnya menjadi Duta Besar di berbagai Negara. Ke semua jabatan itu menuntut pengabdian yang tinggi dan jiwa besar seorang pemimpin seperti Alex Maramis ini.
Selama itu ia tetap menjadi seorang suami yang di kasihi, seorang ayah tiri yang bijaksana, dan seorang anggota keluarga Maramis yang paling menyenangkan. Penuh disiplin pribadi, jujur dalam nerbagai jabatan, Diplomat yang pandai dan tahu harga diri nasional. Tepatlah ia apabila orang menilainya “Sepi Ing Pmrih, Rame Ing Gawe”. Tidak pernah ia menuntut jasa atau mengih janji. Alex Maramis, tokoh yang pernah memegang berbagai jabatan menteri dan duta besar, puluhan tahun lamanya hidupmiskin beserta keluarganya, jauh dari tanah air. Dan pada tahun 1977, ia di pianggil pulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Sempurnalah sudah kehadirannya di dunia ini.
sumber referensi : disini

0 komentar:

Posting Komentar